Selasa, 02 Juli 2019

Peranan Penting pertanian sebagai indikator hidup matinya negara


Peluang Indonesia lebih maju sangat besar jika dibandingkan dengan negara lain. Lebih-lebih dari segi sumber daya alam termasuk sektor pertanian. Sebagai negara yang dilalui garis khatulistiwa, dilalui jajaran gunung vulkanik dan wilayah lautan yang luas serta hamparan hijau nan indah, Indonesia menjadi negara yang kaya akan sumber energi, bertanah subur dan sangat berpotensi untuk dikembangkan dari segi sumber daya alamnya. Indonesia didaulat sebagai negara dengan biodiversitas tertinggi setelah Brazil. Bahkan, Laporan terbaru Bank Dunia bertajuk “Global Development Horizons 2011 Multipolarity: The New Global Economy,” menempatkan Indonesia, Brasil, China, India, Korea Selatan, dan Rusia sebagai penopang pertumbuhan ekonomi dunia hingga tahun 2025 mendatang. 

Sebagai negara dengan sumber daya melimpah, mustahil Indonesia tidak dapat maju dengan pertanian. Setidaknya, pemuda di Indonesia memiliki jiwa optimis bahwa dengan pertanian, mampu membawa Indonesia menjadi negara yang survive di tengah krisis global. Janganlah menjadi manusia yang terus menerus melihat masa lalu serta bisanya hanya mencerca negeri sendiri bahkan malu menjadi orang Indonesia. Janganlah malu mengakui Indonesia sebagai negeri agraris, karena pertanian saat ini sangat berbeda dengan pertanian di masa lalu. Bahkan pertanian saat ini sangat berpotensi dijadikan wahana pendidikan dan ekowisata yang diminati, contohnya taman Bunga Mekarsari dan Agroland.

“Pertanian adalah soal HIDUP atau MATI” (pidato bung Karno dalam peletakan batu pertama IPB Baranang Siang)

Berbicara tentang pertanian, masih banyak orang yang salah kaprah mengenai arti pertanian itu sendiri. Sebagian besar orang beranggapan bahwa pertanian adalah soal lumpur, sawah, ladang, cangkul dan modal dengkul. Padahal, dalam arti luas pertanian adalah segala usaha manusia untuk memanen energi matahari menjadi karbohidrat dan serat untuk kesejahteraan hidup manusia. Karbohidrat sebagian besar dimanfaatkan untuk makanan dan kosmetik. Serat misalnya kapas untuk cotton (pakaian), kayu untuk plafon rumah, kursi, dan furniture lainnya.

Indonesia adalah negara agraris dan maritim. Lahan produktif yang cukup luas, tanah Indonesia subur karena berada di sekitar gunung vulkanik, Indonesia mendapat penyinaran matahari sepanjang tahun, ketinggian dan geografi Indonesia sangat variatif sehingga berbagai jenis tanaman dapat dengan mudah beradaptasi dan cocok hidup dengan lingkungan Indonesia. Sawah, ladang, lautan membentang dari Sabang sampai Merauke. Sudah pantas kalau dulu penjajah menjadikan indonesia sebagai jajahan favoritnya.

Beberapa upaya pembangunan pertanian di masa lalu adalah revolusi hijau. Dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya, setidaknya revolusi hijau telah mampu mengantarkan Indonesia berswasembada pangan selama 5 tahun. Dan kurang dari satu dekade ini muncul istilah revolusi biru. Pelaksanaan revolusi biru sendiri bertujuan untuk melengkapi kebutuhan protein yang berfokus pada peningkatan produksi hasil laut. Hal ini dikarenakan Indonesia juga merupakan negara maritim, menguasai laut yang sangat luas dan mengandung jutaan ikan yang tidak ada habisnya dan menyimpan energi yang sangat besar. Pelaksanaan revolusi hijau dan biru secara seimbang dan kontinu akan memberikan dampak signifikan pada perkembangan pertanian indonesia. Tercapainya swasembada karbohidrat dan protein, meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, pembangunan berkesinambungan antar sektor serta memperkuat kemandirian pangan setiap daerah berdasarkan sumber daya (kearifan) lokalnya.

Pertanian tidak akan berkembang jika tetap menggunakan cara (metode) lama. Pertanian memerlukan inovasi dan teknologi. Dalam hal ini terdapat dua kunci utama pembangunan pertanian, yaitu Agribisnis dan Agroindustri. Agroindustri bergerak di bidang pengolahan hasil pertanian atau lebih tepatnya bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dengan penerapan teknologi tepat guna. Sedangkan Agribisnis adalah manajemen bisnis dan pemasaran produk hasil pertanian di masyarakat serta segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis di bidang pertanian. Dua hal tersebut pada dasarnya menerapkan ilmu-ilmu yang sudah ada, namun dikaji ulang dan mendapat banyak tambahan serta memfokuskan diri pada peningkatan kualitas dan integritas bangsa Agraris seperti Indonesia. Faktanya salah satu pendapatan negara yang terbesar adalah berasal dari pertanian (ekspor). 

Sebagai sektor primer dalam perekonomian bangsa. Pertanian sangat rentan terhadap pengaruh musim dan penyakit. Di awal tahun, pertanian adalah sektor penyumbang devisa negara terbesar, namun dimulai dari triwulan ketiga, pertanian mulai meredup dan siklusnya akan berulang (cerah) kembali di tahun berikutnya. Maka disinilah peran teknologi pembenihan dan pasca panen sangat bermanfaat serta diperlukan. Teknologi pembenihan dapat menciptakan bibit yang tahan cuaca, berproduksi tinggi, tahan penyakit, cepat panen dan memiliki harga ekspor tinggi. 

Agroindustri sebagai jawaban akan teknologi tersebut. Sebab agroindustri bergerak langsung dengan teknologi pengawetan, penyimpanan, pengemasan dan transportasi hasil pertanian.Satu sektor yang tetap bertahan dalam krisis moneter 1997 adalah agroindustri. Terbukti dengan bertahannya nilai ekspor dan hasil olahannya, beberapa petani kakao, vanili dan minyak sawit mendapatkan harga ekspor yang layak, serta makin semaraknya transaksi perdagangan hasil pertanian. Maka sudah tepat bila visi Dr.Ir. Suswono MMA (menteri pertanian 2012) adalah membangun Indonesia dengan pertanian industrial unggul berkelanjutan berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan nilai tambah, berdaya saing ekspor dan kesejahteraan petani.

Agribisnis adalah sektor yang menitikberatkan perhatiannya pada bisnis pertanian sektor hulu maupun hilir, harga pasar produk pertanian dan cara pemasaran produk pertanian agar didapatkan profit yang optimal. Agribisnis merupakan salah satu sektor yang banyak menghasilkan teknopreneur muda. Laju pertumbuhan pengusaha di bidang pertanian memang lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya karena mudah mencari idenya, cepat dan banyak ragamnya. Sektor bisnis pertanian adalah sektor yang mampu bertahan di tengah krisis 1997. Hal tersebut dapat dijadikan motivasi sukses. Bahwa bukannya tidak mungkin kalau dulu saja di tahun 1997 sektor pertanian bertahan di tengah krisis, apalagi sekarang? bantuan teknologi modern telah menyentuh sektor pertanian. Sangat tipis kemungkinan bahwa pertanian tidak mampu bertahan di tengah gerusan krisis global. 

Sektor pertanian memerlukan perbaikan atau tambahan di investasi. Sebab dengan naiknya investasi diharapkan mampu memperbesar output yang dihasilkan serta dapat memperbesar input demand. Semakin besarnya input demand akan memperbesar income serta kesempatan kerja atau dengan kata lain akan mendorong tumbuhnya perekonomian Indonesia. Dan menurut teori ekonomi “Paradoks of trift” semakin banyak pengeluaran suatu negara maka jumlah pengangguran akan berkurang. Maksud dari pengeluaran ini adalah dialokasikan untuk menambah peralatan produksi atau teknologi tepat guna. Sebab dengan hadirnya sebuah teknologi, maka akan menggeser kurva production possibility boundary ke kanan yang berarti efisiensi produksi dengan hasil yang lebih berlimbah dan keuntungan optimum.

Pada dasarnya, tujuan akhir dari optimalisasi pertanian berbasis Agroindustri dan Agribisnis adalah 
  1. mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertahan di level 6,5% di tahun 2011. 
  2. dapat menurunkan harga beras sebagai kebutuhan in-elastis agar tanggungan biaya hidup masyarakat menengah ke bawah terasa lebih ringan. 
  3. Indonesia mampu berswasembada pangan baik karbohidrat maupun protein sehingga mampu berperan sebagai produsen atau pemasok kebutuhan negara sekitar bahkan mampu memegang kendali pasar. 
  4. diharapkan mampu menaikkan nilai tambah dan standarisasi mutu hasil pertanian indonesia dalam menghadapi pasar ekspor dan impor dunia. 
  5. Indonesia tidak lagi mengekspor bahan industri mentah untuk diolah di luar negeri melainkan diolah di dalam negeri agar profit yang dihasilkan dapat maksimal. 
  6. Semampu mungkin teknologi pertanian Indonesia mampu bersaing dengan Thailand di pasar Asia Tenggara. 
  7. Indonesia dapat meminimalisir intensitas produk impor yang masuk ke dalam negeri, kecuali produk benar-benar tidak tersedia di Indonesia. 
  8. sebagai sektor yang membutuhkan banyak sumber daya manusia maka diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja semaksimal mungkin. 
Dengan demikian, masyarakat Indonesia khususnya pemuda tidak perlu malu jika harus mengakui negaranya sebagai Agriculture Country. Sebab pertanian adalah pemasok utama kebutuhan makanan yang kita konsumsi setiap hari. Apa jadinya negeri ini bila setiap pemudanya acuh tak acuh pada pertanian?. Siapa lagi yang akan memproduksi makanan untuk dikonsumsi setiap hari? Apakah kita harus selalu menggantungkan diri pada negara lain? 

Peluang Indonesia lebih maju sangat besar jika dibandingkan dengan negara lain. Lebih-lebih dari segi sumber daya alam termasuk sektor pertanian. Sebagai negara yang dilalui garis khatulistiwa, dilalui jajaran gunung vulkanik dan wilayah lautan yang luas serta hamparan hijau nan indah, Indonesia menjadi negara yang kaya akan sumber energi, bertanah subur dan sangat berpotensi untuk dikembangkan dari segi sumber daya alamnya. Indonesia didaulat sebagai negara dengan biodiversitas tertinggi setelah Brazil. Bahkan, Laporan terbaru Bank Dunia bertajuk “Global Development Horizons 2011 Multipolarity: The New Global Economy,” menempatkan Indonesia, Brasil, China, India, Korea Selatan, dan Rusia sebagai penopang pertumbuhan ekonomi dunia hingga tahun 2025 mendatang. 

Sebagai negara dengan sumber daya melimpah, mustahil Indonesia tidak dapat maju dengan pertanian. Setidaknya, pemuda di Indonesia memiliki jiwa optimis bahwa dengan pertanian, mampu membawa Indonesia menjadi negara yang survive di tengah krisis global. Janganlah menjadi manusia yang terus menerus melihat masa lalu serta bisanya hanya mencerca negeri sendiri bahkan malu menjadi orang Indonesia. Janganlah malu mengakui Indonesia sebagai negeri agraris, karena pertanian saat ini sangat berbeda dengan pertanian di masa lalu. Bahkan pertanian saat ini sangat berpotensi dijadikan wahana pendidikan dan ekowisata yang diminati, contohnya taman Bunga Mekarsari dan Agroland.

“Pertanian adalah soal HIDUP atau MATI” (pidato bung Karno dalam peletakan batu pertama IPB Baranang Siang)

Berbicara tentang pertanian, masih banyak orang yang salah kaprah mengenai arti pertanian itu sendiri. Sebagian besar orang beranggapan bahwa pertanian adalah soal lumpur, sawah, ladang, cangkul dan modal dengkul. Padahal, dalam arti luas pertanian adalah segala usaha manusia untuk memanen energi matahari menjadi karbohidrat dan serat untuk kesejahteraan hidup manusia. Karbohidrat sebagian besar dimanfaatkan untuk makanan dan kosmetik. Serat misalnya kapas untuk cotton (pakaian), kayu untuk plafon rumah, kursi, dan furniture lainnya.

Indonesia adalah negara agraris dan maritim. Lahan produktif yang cukup luas, tanah Indonesia subur karena berada di sekitar gunung vulkanik, Indonesia mendapat penyinaran matahari sepanjang tahun, ketinggian dan geografi Indonesia sangat variatif sehingga berbagai jenis tanaman dapat dengan mudah beradaptasi dan cocok hidup dengan lingkungan Indonesia. Sawah, ladang, lautan membentang dari Sabang sampai Merauke. Sudah pantas kalau dulu penjajah menjadikan indonesia sebagai jajahan favoritnya.

Beberapa upaya pembangunan pertanian di masa lalu adalah revolusi hijau. Dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya, setidaknya revolusi hijau telah mampu mengantarkan Indonesia berswasembada pangan selama 5 tahun. Dan kurang dari satu dekade ini muncul istilah revolusi biru. Pelaksanaan revolusi biru sendiri bertujuan untuk melengkapi kebutuhan protein yang berfokus pada peningkatan produksi hasil laut. Hal ini dikarenakan Indonesia juga merupakan negara maritim, menguasai laut yang sangat luas dan mengandung jutaan ikan yang tidak ada habisnya dan menyimpan energi yang sangat besar. Pelaksanaan revolusi hijau dan biru secara seimbang dan kontinu akan memberikan dampak signifikan pada perkembangan pertanian indonesia. Tercapainya swasembada karbohidrat dan protein, meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, pembangunan berkesinambungan antar sektor serta memperkuat kemandirian pangan setiap daerah berdasarkan sumber daya (kearifan) lokalnya.

Pertanian tidak akan berkembang jika tetap menggunakan cara (metode) lama. Pertanian memerlukan inovasi dan teknologi. Dalam hal ini terdapat dua kunci utama pembangunan pertanian, yaitu Agribisnis dan Agroindustri. Agroindustri bergerak di bidang pengolahan hasil pertanian atau lebih tepatnya bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dengan penerapan teknologi tepat guna. Sedangkan Agribisnis adalah manajemen bisnis dan pemasaran produk hasil pertanian di masyarakat serta segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis di bidang pertanian. Dua hal tersebut pada dasarnya menerapkan ilmu-ilmu yang sudah ada, namun dikaji ulang dan mendapat banyak tambahan serta memfokuskan diri pada peningkatan kualitas dan integritas bangsa Agraris seperti Indonesia. Faktanya salah satu pendapatan negara yang terbesar adalah berasal dari pertanian (ekspor). 

Sebagai sektor primer dalam perekonomian bangsa. Pertanian sangat rentan terhadap pengaruh musim dan penyakit. Di awal tahun, pertanian adalah sektor penyumbang devisa negara terbesar, namun dimulai dari triwulan ketiga, pertanian mulai meredup dan siklusnya akan berulang (cerah) kembali di tahun berikutnya. Maka disinilah peran teknologi pembenihan dan pasca panen sangat bermanfaat serta diperlukan. Teknologi pembenihan dapat menciptakan bibit yang tahan cuaca, berproduksi tinggi, tahan penyakit, cepat panen dan memiliki harga ekspor tinggi. 

Agroindustri sebagai jawaban akan teknologi tersebut. Sebab agroindustri bergerak langsung dengan teknologi pengawetan, penyimpanan, pengemasan dan transportasi hasil pertanian.Satu sektor yang tetap bertahan dalam krisis moneter 1997 adalah agroindustri. Terbukti dengan bertahannya nilai ekspor dan hasil olahannya, beberapa petani kakao, vanili dan minyak sawit mendapatkan harga ekspor yang layak, serta makin semaraknya transaksi perdagangan hasil pertanian. Maka sudah tepat bila visi Dr.Ir. Suswono MMA (menteri pertanian 2012) adalah membangun Indonesia dengan pertanian industrial unggul berkelanjutan berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan nilai tambah, berdaya saing ekspor dan kesejahteraan petani.

Agribisnis adalah sektor yang menitikberatkan perhatiannya pada bisnis pertanian sektor hulu maupun hilir, harga pasar produk pertanian dan cara pemasaran produk pertanian agar didapatkan profit yang optimal. Agribisnis merupakan salah satu sektor yang banyak menghasilkan teknopreneur muda. Laju pertumbuhan pengusaha di bidang pertanian memang lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya karena mudah mencari idenya, cepat dan banyak ragamnya. Sektor bisnis pertanian adalah sektor yang mampu bertahan di tengah krisis 1997. Hal tersebut dapat dijadikan motivasi sukses. Bahwa bukannya tidak mungkin kalau dulu saja di tahun 1997 sektor pertanian bertahan di tengah krisis, apalagi sekarang? bantuan teknologi modern telah menyentuh sektor pertanian. Sangat tipis kemungkinan bahwa pertanian tidak mampu bertahan di tengah gerusan krisis global. 

Sektor pertanian memerlukan perbaikan atau tambahan di investasi. Sebab dengan naiknya investasi diharapkan mampu memperbesar output yang dihasilkan serta dapat memperbesar input demand. Semakin besarnya input demand akan memperbesar income serta kesempatan kerja atau dengan kata lain akan mendorong tumbuhnya perekonomian Indonesia. Dan menurut teori ekonomi “Paradoks of trift” semakin banyak pengeluaran suatu negara maka jumlah pengangguran akan berkurang. Maksud dari pengeluaran ini adalah dialokasikan untuk menambah peralatan produksi atau teknologi tepat guna. Sebab dengan hadirnya sebuah teknologi, maka akan menggeser kurva production possibility boundary ke kanan yang berarti efisiensi produksi dengan hasil yang lebih berlimbah dan keuntungan optimum.

Pada dasarnya, tujuan akhir dari optimalisasi pertanian berbasis Agroindustri dan Agribisnis adalah 
  1. mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertahan di level 6,5% di tahun 2011. 
  2. dapat menurunkan harga beras sebagai kebutuhan in-elastis agar tanggungan biaya hidup masyarakat menengah ke bawah terasa lebih ringan. 
  3. Indonesia mampu berswasembada pangan baik karbohidrat maupun protein sehingga mampu berperan sebagai produsen atau pemasok kebutuhan negara sekitar bahkan mampu memegang kendali pasar. 
  4. diharapkan mampu menaikkan nilai tambah dan standarisasi mutu hasil pertanian indonesia dalam menghadapi pasar ekspor dan impor dunia. 
  5. Indonesia tidak lagi mengekspor bahan industri mentah untuk diolah di luar negeri melainkan diolah di dalam negeri agar profit yang dihasilkan dapat maksimal. 
  6. Semampu mungkin teknologi pertanian Indonesia mampu bersaing dengan Thailand di pasar Asia Tenggara. 
  7. Indonesia dapat meminimalisir intensitas produk impor yang masuk ke dalam negeri, kecuali produk benar-benar tidak tersedia di Indonesia. 
  8. sebagai sektor yang membutuhkan banyak sumber daya manusia maka diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja semaksimal mungkin. 
Dengan demikian, masyarakat Indonesia khususnya pemuda tidak perlu malu jika harus mengakui negaranya sebagai Agriculture Country. Sebab pertanian adalah pemasok utama kebutuhan makanan yang kita konsumsi setiap hari. Apa jadinya negeri ini bila setiap pemudanya acuh tak acuh pada pertanian?. Siapa lagi yang akan memproduksi makanan untuk dikonsumsi setiap hari? Apakah kita harus selalu menggantungkan diri pada negara lain? 


Mahasiswa Sesungguhnya

Sering kita mendengar sebuah istilah kata yang memuat kata Mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, namun sebenarnya apakah kita paham dan tahu makna dan arti sebenarnya dari kata mahasiswa itu sendiri ?, seperti sudah menjadi sebuah legacy dari jaman Era Reformasi mahasiswa diidentikan sebagai seorang pembuat onar yang hampir setiap hari muncul dalam media cetak maupun media elektronik, meskipun tidak semua mahasiswa “berperilaku” demikian, banyak juga mahasiswa yang mampu berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik, hanya saja intensitas terekspose oleh media yang kurang berimbang dan pencitraan masyarakat lah, yang sebenarnya memberikan sebuah identitas kepada Mahasiswa.
Mahasiswa secara harafiah berasal dari 2 buah kata Maha dan Siswa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Maha memiliki arti sebuah bentuk terikat 1 sangat; amat; teramat; 2 besar, sedangkan Siswa adalah seorang murid. Sederhananya kita dapat mengartikan mahasiswa adalah seorang murid yang “besar”. Ya benar, Seorang murid yang “besar”, dengan kata besar dalam tanda kutip, yang memiliki banyak arti yang kompleks terkait dengan kata sebelumnya. Dalam perspektif saya mengenai arti kata besar adalah :
1. “Besar” dalam pemikirian, kondisi yang labil, jiwa yang meledak-ledak, emosi yang mudah meluap, merupakan sifat yang lekat dengan seorang mahasiswa, karena dalam orientasinya seorang mahasiswa merupakan seorang pemuda yang dalam proses pencarian jati diri. Dalam fase ini segala bentuk hal baik-buruk tentang kehidupan coba digali untuk membentuk sebuah karakter dari seorang insan manusia yang dewasa. Salah mengartikan hal baik ataupun buruk akan mengakibatkan seorang mahasiswa dapat terjerumus dalam jurang kehidupan.
2. “Besar” dalam bertindak, tanggung jawab yang diemban menjadi seorang agent of change, menuntut seorang mahasiswa agar mampu untuk mencerminkan sebuah sikap sebagai seorang civitas akademika. Mandiri, berbudi pekerti luhur, serta berjiwa sosial merupakan salah satu bentuk perkembangan sikap seorang mahasiswa yang beranjak meninggalkan masa kanak-kanak, karena semakin berambah umur akan semakin besar tanggung jawab yang harus kita pikul.
3. “Besar” dalam bermimpi, bermimpi merupakan sebuah langkah awal untuk mewujudkan cita-cita, lautan mimpi yang begitu luas bebas kita selami, berhenti bermimpi sama halnya kita membunuh diri kita sendiri secara pelan-pelan. Mimpi merupakan sebuah tujuan hidup yang harus kita wujudkan, karena dengan mimpi kita dapat memotivasi diri kita agar dapat mewujudkan mimpi
Mungkin arti kata “besar” dalam perspektif saya yang bisa saya utarakan, semoga dapat mewakili definisi seorang mahasiswa.

MAHASISWA : AGENT OF CHANGE, SOCIAL CONTROL, AND IRON STOCK
Sebagai seorang pembelajar dan bagian masyarakat , maka mahasiswa memiliki peran yang komleks dan menyeluruh sehingga dikelompokkan dalam tiga fungsi : agent of change, social control and iron stock. Dengan fungsi tersebut, tentu saja tidak dapat dipungkiri bagaimana peran besar yang diemban mahasiswa untuk mewujudkan perubahan bangsa. Ide dan pemikiran cerdas seorang mahasiswa mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas. Dan satu hal yang menjadi kebanggaan mahasiswa mahasiswa adalah semangat membara untuk melakukan sebuah perubahan.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negri lalu dengan gagahnya sang pahlawan mengusir penjahat-penjahat yang merajalela dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat.

Mahasiswa bukan hanya sekedar agen perubahan seperti pahlawan tersebut, mahasiswa sepantasnya menjadi agen pemberdayaan setelah peubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan kontrol individu sehingga menutup celah-celah adanya kezaliman. Mahasiswa bukan sebagai pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat.

Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berfikirnya. Namun, kenyataan dilapangan berbeda dari yang diharapkan, mahasiswa cenderung hanya mndalami ilmu-ilmu teori di bangku perkuliahan dan sedikit sekali diantaranya yang berkontak dengan masyarakat, walaupun ada sebagian mahasiswa yang mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui program-program pengabdian masyarakat.

Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi hubungan keharmonisan dan penerapan ilmu. Dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul sikap apatis dan hilangnya silaturrahim seiring hilangnya harapan masyarakat kepada mahasiswa. Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa yang acuh akan menyianyiakan ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kuantitas sumbangsih ilmu pada masyarakat.

Lalu jika mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan, maka harapan seperti apa yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa. Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seorang calon pemimpin bangsa masa depan, menggantikan generasi yang telah ada dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dan perubahan. Untuk menjadi iron stock, tidak cukup mahasiswa hanya memupuk diri dengan ilmu spesifik saja. Perlu adanya soft skill lain yang harus dimiliki mahasiswa seperti kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas yang tinggi. Pertanyaannya, sebagai seorang mahasiswa, apakah kita sudah memiliki itu semua ??

Maka komplekslah perah mahasiswa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang ditopang dalam tiga peran : agent of change, social control, and iron stock. Hingga suatu saat nanti, bangsa ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi yang ditunggu-tunggu bangsa ini..

Kitalah generasi itu..

Jaya mahasiswa….!!

Cara Membedakan Covid kita ini Ringan, Sedang, atau Berat ?

Teman2 pasti sudah tahu, dokter harus mengetahui dulu derajat berat COVID yang dialami baru setelahnya bisa menentukan terapi apa yang palin...