Peluang Indonesia
lebih maju sangat besar jika dibandingkan dengan negara lain. Lebih-lebih dari
segi sumber daya alam termasuk sektor pertanian. Sebagai negara yang dilalui
garis khatulistiwa, dilalui jajaran gunung vulkanik dan wilayah lautan yang
luas serta hamparan hijau nan indah, Indonesia menjadi negara yang kaya akan
sumber energi, bertanah subur dan sangat berpotensi untuk dikembangkan dari
segi sumber daya alamnya. Indonesia didaulat sebagai negara dengan
biodiversitas tertinggi setelah Brazil. Bahkan, Laporan terbaru Bank Dunia
bertajuk “Global Development Horizons 2011 Multipolarity: The New Global
Economy,” menempatkan Indonesia, Brasil, China, India, Korea Selatan, dan Rusia
sebagai penopang pertumbuhan ekonomi dunia hingga tahun 2025 mendatang.
Sebagai negara dengan
sumber daya melimpah, mustahil Indonesia tidak dapat maju dengan pertanian.
Setidaknya, pemuda di Indonesia memiliki jiwa optimis bahwa dengan pertanian,
mampu membawa Indonesia menjadi negara yang survive di tengah krisis global.
Janganlah menjadi manusia yang terus menerus melihat masa lalu serta bisanya
hanya mencerca negeri sendiri bahkan malu menjadi orang Indonesia. Janganlah
malu mengakui Indonesia sebagai negeri agraris, karena pertanian saat ini
sangat berbeda dengan pertanian di masa lalu. Bahkan pertanian saat ini sangat
berpotensi dijadikan wahana pendidikan dan ekowisata yang diminati, contohnya
taman Bunga Mekarsari dan Agroland.
“Pertanian adalah soal
HIDUP atau MATI” (pidato bung Karno dalam peletakan batu pertama IPB
Baranang Siang)
Berbicara tentang
pertanian, masih banyak orang yang salah kaprah mengenai arti pertanian itu
sendiri. Sebagian besar orang beranggapan bahwa pertanian adalah soal lumpur,
sawah, ladang, cangkul dan modal dengkul. Padahal, dalam arti luas pertanian
adalah segala usaha manusia untuk memanen energi matahari menjadi karbohidrat
dan serat untuk kesejahteraan hidup manusia. Karbohidrat sebagian besar
dimanfaatkan untuk makanan dan kosmetik. Serat misalnya kapas untuk cotton
(pakaian), kayu untuk plafon rumah, kursi, dan furniture lainnya.
Indonesia adalah
negara agraris dan maritim. Lahan produktif yang cukup luas, tanah Indonesia
subur karena berada di sekitar gunung vulkanik, Indonesia mendapat penyinaran
matahari sepanjang tahun, ketinggian dan geografi Indonesia sangat variatif
sehingga berbagai jenis tanaman dapat dengan mudah beradaptasi dan cocok hidup
dengan lingkungan Indonesia. Sawah, ladang, lautan membentang dari Sabang
sampai Merauke. Sudah pantas kalau dulu penjajah menjadikan indonesia sebagai
jajahan favoritnya.
Beberapa upaya
pembangunan pertanian di masa lalu adalah revolusi hijau. Dengan berbagai
kekurangan dan kelebihannya, setidaknya revolusi hijau telah mampu mengantarkan
Indonesia berswasembada pangan selama 5 tahun. Dan kurang dari satu dekade ini
muncul istilah revolusi biru. Pelaksanaan revolusi biru sendiri bertujuan untuk
melengkapi kebutuhan protein yang berfokus pada peningkatan produksi hasil
laut. Hal ini dikarenakan Indonesia juga merupakan negara maritim, menguasai
laut yang sangat luas dan mengandung jutaan ikan yang tidak ada habisnya dan
menyimpan energi yang sangat besar. Pelaksanaan revolusi hijau dan biru secara
seimbang dan kontinu akan memberikan dampak signifikan pada perkembangan
pertanian indonesia. Tercapainya swasembada karbohidrat dan protein,
meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, pembangunan berkesinambungan
antar sektor serta memperkuat kemandirian pangan setiap daerah berdasarkan
sumber daya (kearifan) lokalnya.
Pertanian tidak akan
berkembang jika tetap menggunakan cara (metode) lama. Pertanian memerlukan
inovasi dan teknologi. Dalam hal ini terdapat dua kunci utama pembangunan
pertanian, yaitu Agribisnis dan Agroindustri. Agroindustri bergerak di bidang
pengolahan hasil pertanian atau lebih tepatnya bertujuan meningkatkan nilai
tambah hasil pertanian dengan penerapan teknologi tepat guna. Sedangkan
Agribisnis adalah manajemen bisnis dan pemasaran produk hasil pertanian di
masyarakat serta segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis di bidang
pertanian. Dua hal tersebut pada dasarnya menerapkan ilmu-ilmu yang sudah ada,
namun dikaji ulang dan mendapat banyak tambahan serta memfokuskan diri pada
peningkatan kualitas dan integritas bangsa Agraris seperti Indonesia. Faktanya
salah satu pendapatan negara yang terbesar adalah berasal dari pertanian
(ekspor).
Sebagai sektor primer
dalam perekonomian bangsa. Pertanian sangat rentan terhadap pengaruh musim dan
penyakit. Di awal tahun, pertanian adalah sektor penyumbang devisa negara terbesar,
namun dimulai dari triwulan ketiga, pertanian mulai meredup dan siklusnya akan
berulang (cerah) kembali di tahun berikutnya. Maka disinilah peran teknologi
pembenihan dan pasca panen sangat bermanfaat serta diperlukan. Teknologi
pembenihan dapat menciptakan bibit yang tahan cuaca, berproduksi tinggi, tahan
penyakit, cepat panen dan memiliki harga ekspor tinggi.
Agroindustri sebagai
jawaban akan teknologi tersebut. Sebab agroindustri bergerak langsung dengan
teknologi pengawetan, penyimpanan, pengemasan dan transportasi hasil
pertanian.Satu sektor yang tetap bertahan dalam krisis moneter 1997 adalah
agroindustri. Terbukti dengan bertahannya nilai ekspor dan hasil olahannya,
beberapa petani kakao, vanili dan minyak sawit mendapatkan harga ekspor yang layak,
serta makin semaraknya transaksi perdagangan hasil pertanian. Maka sudah tepat
bila visi Dr.Ir. Suswono MMA (menteri pertanian 2012) adalah membangun
Indonesia dengan pertanian industrial unggul berkelanjutan berbasis sumberdaya
lokal untuk meningkatkan nilai tambah, berdaya saing ekspor dan kesejahteraan
petani.
Agribisnis adalah
sektor yang menitikberatkan perhatiannya pada bisnis pertanian sektor hulu
maupun hilir, harga pasar produk pertanian dan cara pemasaran produk pertanian
agar didapatkan profit yang optimal. Agribisnis merupakan salah satu sektor
yang banyak menghasilkan teknopreneur muda. Laju pertumbuhan pengusaha di
bidang pertanian memang lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya karena mudah
mencari idenya, cepat dan banyak ragamnya. Sektor bisnis pertanian adalah
sektor yang mampu bertahan di tengah krisis 1997. Hal tersebut dapat dijadikan
motivasi sukses. Bahwa bukannya tidak mungkin kalau dulu saja di tahun 1997
sektor pertanian bertahan di tengah krisis, apalagi sekarang? bantuan teknologi
modern telah menyentuh sektor pertanian. Sangat tipis kemungkinan bahwa
pertanian tidak mampu bertahan di tengah gerusan krisis global.
Sektor pertanian
memerlukan perbaikan atau tambahan di investasi. Sebab dengan naiknya investasi
diharapkan mampu memperbesar output yang dihasilkan serta dapat memperbesar
input demand. Semakin besarnya input demand akan memperbesar income serta
kesempatan kerja atau dengan kata lain akan mendorong tumbuhnya perekonomian
Indonesia. Dan menurut teori ekonomi “Paradoks of trift” semakin banyak
pengeluaran suatu negara maka jumlah pengangguran akan berkurang. Maksud dari
pengeluaran ini adalah dialokasikan untuk menambah peralatan produksi atau
teknologi tepat guna. Sebab dengan hadirnya sebuah teknologi, maka akan menggeser
kurva production possibility boundary ke kanan yang berarti efisiensi produksi
dengan hasil yang lebih berlimbah dan keuntungan optimum.
Pada dasarnya, tujuan
akhir dari optimalisasi pertanian berbasis Agroindustri dan Agribisnis
adalah
- mempertahankan bahkan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertahan di level 6,5% di
tahun 2011.
- dapat menurunkan harga beras
sebagai kebutuhan in-elastis agar tanggungan biaya hidup masyarakat
menengah ke bawah terasa lebih ringan.
- Indonesia mampu berswasembada
pangan baik karbohidrat maupun protein sehingga mampu berperan sebagai
produsen atau pemasok kebutuhan negara sekitar bahkan mampu memegang
kendali pasar.
- diharapkan mampu menaikkan
nilai tambah dan standarisasi mutu hasil pertanian indonesia dalam
menghadapi pasar ekspor dan impor dunia.
- Indonesia tidak lagi mengekspor
bahan industri mentah untuk diolah di luar negeri melainkan diolah di
dalam negeri agar profit yang dihasilkan dapat maksimal.
- Semampu mungkin teknologi pertanian
Indonesia mampu bersaing dengan Thailand di pasar Asia Tenggara.
- Indonesia dapat meminimalisir
intensitas produk impor yang masuk ke dalam negeri, kecuali produk
benar-benar tidak tersedia di Indonesia.
- sebagai sektor yang membutuhkan
banyak sumber daya manusia maka diharapkan mampu menyerap banyak tenaga
kerja semaksimal mungkin.
Dengan demikian,
masyarakat Indonesia khususnya pemuda tidak perlu malu jika harus mengakui
negaranya sebagai Agriculture Country. Sebab pertanian adalah pemasok utama kebutuhan
makanan yang kita konsumsi setiap hari. Apa jadinya negeri ini bila setiap
pemudanya acuh tak acuh pada pertanian?. Siapa lagi yang akan memproduksi
makanan untuk dikonsumsi setiap hari? Apakah kita harus selalu menggantungkan
diri pada negara lain?
Peluang Indonesia
lebih maju sangat besar jika dibandingkan dengan negara lain. Lebih-lebih dari
segi sumber daya alam termasuk sektor pertanian. Sebagai negara yang dilalui
garis khatulistiwa, dilalui jajaran gunung vulkanik dan wilayah lautan yang
luas serta hamparan hijau nan indah, Indonesia menjadi negara yang kaya akan
sumber energi, bertanah subur dan sangat berpotensi untuk dikembangkan dari
segi sumber daya alamnya. Indonesia didaulat sebagai negara dengan
biodiversitas tertinggi setelah Brazil. Bahkan, Laporan terbaru Bank Dunia
bertajuk “Global Development Horizons 2011 Multipolarity: The New Global
Economy,” menempatkan Indonesia, Brasil, China, India, Korea Selatan, dan Rusia
sebagai penopang pertumbuhan ekonomi dunia hingga tahun 2025 mendatang.
Sebagai negara dengan
sumber daya melimpah, mustahil Indonesia tidak dapat maju dengan pertanian.
Setidaknya, pemuda di Indonesia memiliki jiwa optimis bahwa dengan pertanian,
mampu membawa Indonesia menjadi negara yang survive di tengah krisis global.
Janganlah menjadi manusia yang terus menerus melihat masa lalu serta bisanya
hanya mencerca negeri sendiri bahkan malu menjadi orang Indonesia. Janganlah
malu mengakui Indonesia sebagai negeri agraris, karena pertanian saat ini
sangat berbeda dengan pertanian di masa lalu. Bahkan pertanian saat ini sangat
berpotensi dijadikan wahana pendidikan dan ekowisata yang diminati, contohnya
taman Bunga Mekarsari dan Agroland.
“Pertanian adalah soal
HIDUP atau MATI” (pidato bung Karno dalam peletakan batu pertama IPB
Baranang Siang)
Berbicara tentang
pertanian, masih banyak orang yang salah kaprah mengenai arti pertanian itu
sendiri. Sebagian besar orang beranggapan bahwa pertanian adalah soal lumpur,
sawah, ladang, cangkul dan modal dengkul. Padahal, dalam arti luas pertanian
adalah segala usaha manusia untuk memanen energi matahari menjadi karbohidrat
dan serat untuk kesejahteraan hidup manusia. Karbohidrat sebagian besar
dimanfaatkan untuk makanan dan kosmetik. Serat misalnya kapas untuk cotton
(pakaian), kayu untuk plafon rumah, kursi, dan furniture lainnya.
Indonesia adalah
negara agraris dan maritim. Lahan produktif yang cukup luas, tanah Indonesia
subur karena berada di sekitar gunung vulkanik, Indonesia mendapat penyinaran
matahari sepanjang tahun, ketinggian dan geografi Indonesia sangat variatif
sehingga berbagai jenis tanaman dapat dengan mudah beradaptasi dan cocok hidup
dengan lingkungan Indonesia. Sawah, ladang, lautan membentang dari Sabang
sampai Merauke. Sudah pantas kalau dulu penjajah menjadikan indonesia sebagai
jajahan favoritnya.
Beberapa upaya
pembangunan pertanian di masa lalu adalah revolusi hijau. Dengan berbagai
kekurangan dan kelebihannya, setidaknya revolusi hijau telah mampu mengantarkan
Indonesia berswasembada pangan selama 5 tahun. Dan kurang dari satu dekade ini
muncul istilah revolusi biru. Pelaksanaan revolusi biru sendiri bertujuan untuk
melengkapi kebutuhan protein yang berfokus pada peningkatan produksi hasil
laut. Hal ini dikarenakan Indonesia juga merupakan negara maritim, menguasai
laut yang sangat luas dan mengandung jutaan ikan yang tidak ada habisnya dan
menyimpan energi yang sangat besar. Pelaksanaan revolusi hijau dan biru secara
seimbang dan kontinu akan memberikan dampak signifikan pada perkembangan
pertanian indonesia. Tercapainya swasembada karbohidrat dan protein,
meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, pembangunan berkesinambungan
antar sektor serta memperkuat kemandirian pangan setiap daerah berdasarkan
sumber daya (kearifan) lokalnya.
Pertanian tidak akan
berkembang jika tetap menggunakan cara (metode) lama. Pertanian memerlukan
inovasi dan teknologi. Dalam hal ini terdapat dua kunci utama pembangunan
pertanian, yaitu Agribisnis dan Agroindustri. Agroindustri bergerak di bidang
pengolahan hasil pertanian atau lebih tepatnya bertujuan meningkatkan nilai
tambah hasil pertanian dengan penerapan teknologi tepat guna. Sedangkan
Agribisnis adalah manajemen bisnis dan pemasaran produk hasil pertanian di
masyarakat serta segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis di bidang
pertanian. Dua hal tersebut pada dasarnya menerapkan ilmu-ilmu yang sudah ada,
namun dikaji ulang dan mendapat banyak tambahan serta memfokuskan diri pada
peningkatan kualitas dan integritas bangsa Agraris seperti Indonesia. Faktanya
salah satu pendapatan negara yang terbesar adalah berasal dari pertanian
(ekspor).
Sebagai sektor primer
dalam perekonomian bangsa. Pertanian sangat rentan terhadap pengaruh musim dan
penyakit. Di awal tahun, pertanian adalah sektor penyumbang devisa negara terbesar,
namun dimulai dari triwulan ketiga, pertanian mulai meredup dan siklusnya akan
berulang (cerah) kembali di tahun berikutnya. Maka disinilah peran teknologi
pembenihan dan pasca panen sangat bermanfaat serta diperlukan. Teknologi
pembenihan dapat menciptakan bibit yang tahan cuaca, berproduksi tinggi, tahan
penyakit, cepat panen dan memiliki harga ekspor tinggi.
Agroindustri sebagai
jawaban akan teknologi tersebut. Sebab agroindustri bergerak langsung dengan
teknologi pengawetan, penyimpanan, pengemasan dan transportasi hasil
pertanian.Satu sektor yang tetap bertahan dalam krisis moneter 1997 adalah
agroindustri. Terbukti dengan bertahannya nilai ekspor dan hasil olahannya,
beberapa petani kakao, vanili dan minyak sawit mendapatkan harga ekspor yang layak,
serta makin semaraknya transaksi perdagangan hasil pertanian. Maka sudah tepat
bila visi Dr.Ir. Suswono MMA (menteri pertanian 2012) adalah membangun
Indonesia dengan pertanian industrial unggul berkelanjutan berbasis sumberdaya
lokal untuk meningkatkan nilai tambah, berdaya saing ekspor dan kesejahteraan
petani.
Agribisnis adalah
sektor yang menitikberatkan perhatiannya pada bisnis pertanian sektor hulu
maupun hilir, harga pasar produk pertanian dan cara pemasaran produk pertanian
agar didapatkan profit yang optimal. Agribisnis merupakan salah satu sektor
yang banyak menghasilkan teknopreneur muda. Laju pertumbuhan pengusaha di
bidang pertanian memang lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya karena mudah
mencari idenya, cepat dan banyak ragamnya. Sektor bisnis pertanian adalah
sektor yang mampu bertahan di tengah krisis 1997. Hal tersebut dapat dijadikan
motivasi sukses. Bahwa bukannya tidak mungkin kalau dulu saja di tahun 1997
sektor pertanian bertahan di tengah krisis, apalagi sekarang? bantuan teknologi
modern telah menyentuh sektor pertanian. Sangat tipis kemungkinan bahwa
pertanian tidak mampu bertahan di tengah gerusan krisis global.
Sektor pertanian
memerlukan perbaikan atau tambahan di investasi. Sebab dengan naiknya investasi
diharapkan mampu memperbesar output yang dihasilkan serta dapat memperbesar
input demand. Semakin besarnya input demand akan memperbesar income serta
kesempatan kerja atau dengan kata lain akan mendorong tumbuhnya perekonomian
Indonesia. Dan menurut teori ekonomi “Paradoks of trift” semakin banyak
pengeluaran suatu negara maka jumlah pengangguran akan berkurang. Maksud dari
pengeluaran ini adalah dialokasikan untuk menambah peralatan produksi atau
teknologi tepat guna. Sebab dengan hadirnya sebuah teknologi, maka akan menggeser
kurva production possibility boundary ke kanan yang berarti efisiensi produksi
dengan hasil yang lebih berlimbah dan keuntungan optimum.
Pada dasarnya, tujuan
akhir dari optimalisasi pertanian berbasis Agroindustri dan Agribisnis
adalah
- mempertahankan bahkan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertahan di level 6,5% di
tahun 2011.
- dapat menurunkan harga beras
sebagai kebutuhan in-elastis agar tanggungan biaya hidup masyarakat
menengah ke bawah terasa lebih ringan.
- Indonesia mampu berswasembada
pangan baik karbohidrat maupun protein sehingga mampu berperan sebagai
produsen atau pemasok kebutuhan negara sekitar bahkan mampu memegang
kendali pasar.
- diharapkan mampu menaikkan
nilai tambah dan standarisasi mutu hasil pertanian indonesia dalam
menghadapi pasar ekspor dan impor dunia.
- Indonesia tidak lagi mengekspor
bahan industri mentah untuk diolah di luar negeri melainkan diolah di
dalam negeri agar profit yang dihasilkan dapat maksimal.
- Semampu mungkin teknologi pertanian
Indonesia mampu bersaing dengan Thailand di pasar Asia Tenggara.
- Indonesia dapat meminimalisir
intensitas produk impor yang masuk ke dalam negeri, kecuali produk
benar-benar tidak tersedia di Indonesia.
- sebagai sektor yang membutuhkan
banyak sumber daya manusia maka diharapkan mampu menyerap banyak tenaga
kerja semaksimal mungkin.
Dengan demikian,
masyarakat Indonesia khususnya pemuda tidak perlu malu jika harus mengakui
negaranya sebagai Agriculture Country. Sebab pertanian adalah pemasok utama kebutuhan
makanan yang kita konsumsi setiap hari. Apa jadinya negeri ini bila setiap
pemudanya acuh tak acuh pada pertanian?. Siapa lagi yang akan memproduksi
makanan untuk dikonsumsi setiap hari? Apakah kita harus selalu menggantungkan
diri pada negara lain?